Jumat, 13 Juli 2012

Analisis Kurikulum Matematika Sekolah

Secara umum
Pandangan tentang kurikulum dan pelaksanaanya pada saat ini banyak sekali. Menggunakan rencana-rencana yang membutuhkan koordinasi tingkat tinggi disetiap elemen penyelenggara pendidikan. Pengembangan kurikulum dimaksudkan sebagai perencanaan untuk membawa siswa ke arah perubahan sesuai yang diharapkan (perubahan lebih baik) melalui kesempatan belajar yang direncanakan dan dikontrol. Dari setiap tahapan pengembangan kurikulum dan pelaksanaannya layaknya sebuah sirklus yang tidak pernah berakhir. Secara garis besar kita menuju ke tujuan utama kurikulum yang diajarkan, metode serta alat yang digunakan dalam melaksanakan kurikulum, penilaian terhadap pelaksanaan keberhasilan serta upaya untuk mengevaluasi (feedback) sebagai tolak ukur perbaikan.
Spesifik pada mata pelajaran matematika
Kurikulum mencakup semua kegiatan yang akan dilaksanakan selama proses belajar mengajar itu berlangsung hendaknya selalu mengantongi prinsip-prinsip  pengembangan kurikulum minimal prinsip umum dan prinsip khusus. Mengapa demikian ? karena pengembangan kurikulum dalam  prinsip umum haruslah relevan, fleksibel, kontinue, efisien dan efektif. Sehingga hasil yang dicapai dari kurikulum mata pelajaran matematika adalah ketuntasan belajar (menguasai materi pelajaran).
Biasanya materi pengajaran di jenjang yang lebih rendah akan dijadikan dasar untuk memahami materi yang lebih kompleks di semester/jenjang yang akan datang. Begitu seterusnya. Inilah fungsi kontinuitas dalam materi pelajaran. Seperti yang kita ketahui bahwa jenjang variansi mata pelajaran di SMA/SMP di awali dari yang lebih mudah ke yang lebih kompleks, mudah dalam pelaksanaannnya, tidak membebankan kepada guru, kepala sekolah ataupun bidang kurikulum sehingga murah dalam pelaksanaanya, tidak membutuhkan waktu yang sangat banyak dan secara berkala mudah untuk di ulang sewaktu-waktu materi yang diajarkan. (fungsi efisien dan efektifitas).
Menurut Oemar Hamalik (2007) , 12 prinsip pengembangan kurikulum yang harus diketahui oleh para elemen pendidikan dapat menjadikan bahan evaluasi kurikulum sekolah untuk dikembangkan. Apabila salah satunya tidak telaksana , misal butir 1 menyebutkan ‘keseimbangan etika, estetika, logika dan kinestetika’ maka yang terjadi adalah sekolah menciptakan peserta didik yang tidak tumbuh sifat-sifat kepribadian sebagai warga negara, tetapi hanya memiliki intelektual yang tinggi saja yang dimiliki. Artinya , peserta didik yang seperti itu akan merugikan diri sendiri dan orang lain. Apabila butir 2 ‘kesamaan memperoleh pengajaran‘ maka akan terjadiketidakseimbangan antara peserta didik dalam memperoleh pelajaran dan masih banyak yang lainnya.
Mata pelajaran matematika disekolah memiliki background yang sudah familiar didengar, yakni ‘sulit dan membosankan’ hanya menghitung dan menghitung, bermain rumus serta mengolah angka. Kewajiban bagi semua guru matematika adalah mengubah image matematika melalui pengembangan kurikulum matematika disekolah agar mudah diterima oleh peserta didik secara baik, merata, seimbang serta tepat. Program pengembangan kurikulum seharusnya dievaluasi secara berkala oleh penyelenggara pendidikan mengingat mata pelajaran matematika memiliki aspek relevansi yang banyak pada mata pelajaran yang lain, baik kimia, fisika maupun ekonomi. Kesulitan yang cenderung dialami adalah saat prinsip kontinuitas pada materi pelajaran yang terkandung didalam matematika tidak telaksana maka akan menyebabkan peserta didik mengalami penurunan semangat belajar, gangguan psikis serta kogntifnya yang terganggu mengingat jika rekan sekelasnya lebih menguasai materi ketimbang dirinya. Karena banyak aspek yang mempengaruhinya. Oleh sebab itu adanya variasi materi pelajaran minimal memberikan tahapan berpikir yang bertahap.
Menganalisis KTSP
KTSP merupakan kurikulum berorientasi pada pencapaian kompetensi. Pengembangan Kurikulum umumnya didasarkan pada dua landasan pokok, yakni landasan empiris dan landasan formal.
Kita lihat saja, Landasan empiris yang terkandung dalam KTSP diantaranya :
  1. Adanya kenyataan rendahnya kualitas pendidikan kita baik dilihat dari sudut proses maupun hasil belajar.
  2. Budaya dengan potensi dan kebutuhan yang berbeda.
  3. Selama ini peran sekolah dan masyarakat dalam pengembangan kurikulum bersifat pasif.
Kemudian, setelah mengetahui landasan yang dibutuhkan dari kurikulum, misal KTSP diatas maka, dilakukan penyusunan model kurikulum sesuai dengan kebutuhan dengan mengindahkan konstruksi yang bersifat konstruktif dan konsep.

Empat model kurikulum , yakni model Kurikulum Akademis, Kurikulum Pengembangan Individu (Humanistik), Kurikulum Rekontruksi Sosial serta Kurikulum Teknologis. Apabila dihubungkan dengan konsep dasar pengembangan dan model kurikulum atau menghubungkan dengan sistem pengembangan kurikulum menurut Oemar Hamalik (2007), maka KTSP memiliki unsur tersebut yang sekaligus merupakan karakteristik KTSP itu sendiri, yakni :
  1. KTSP dapat dikatakan sebagai kurikulum konstruktif sosial. karena salah satu prinsip KTSP, mengembangkan potensi, kebutuhan dan kepentingan peserta didik dengan lingkungannya (menanamkan identitas nasional).
  2. Dilihat dari desainnya KTSP adalah kurikulum yang beroriantasi kepada disiplin ilmu. Misalnya , struktur program KTSP yang memuat sejumlah mata pelajaran yang harus ditempuh oleh peserta didik serta kriteria keberhasilan KTSP lebih banyak di ukur dari kemampuan siswa menguasai materi pelajaran (ketuntasan belajar) .


  1. KTSP dapat dikatakan sebagai kurikulum pengembangan individu. Hal ini dapat dilihat dari prinsip-prinsip pembelajaran dalam KTSP yang menekankan pada aktivitas siswa untuk mencari dan menemukan sendiri materi pelajaran melalui berbagai pendekatan dan strategi pembelajaran yang disarankan (guru sebagai fasilitator dan pembimbing).
  2. KTSP dapat dikatakan sebagai kurikulum teknologis. Lihat saja dari adanya standar kompetensi, kompetensi dasar yang kemudian dijabarkan pada indikator hasil belajar, yakni sejumlah perilaku yang terukur sebagai bahan penilaian serta pengarahan berdasarkan kepada asas pemanfaatan , pengembangan, penciptaan ilmu dan teknologi.

Pemantapan model kurikulum diikuti dengan Prinsip-prinsip Pengembangan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan yang telah kita ketahui sebelumnya, yakni :
Sesuai pandangan Oemar Hamalik (2007)
  1. Tangggap terhadap perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, informasi kan komunikasi (butir 5). Kurikulum dikembangkan atas dasar kesadaran isi kurikulum yang memberikan pengalaman belajar peserta didik untuk mengikuti dan memanfaatkan perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, informasi kan komunikasi.
  2. Relevan dengan kebutuhan kehidupan (butir 6). Pengembangan kurikulum dilakukan dengan melibatkan pemangku kepentingan (stakeholders) untuk menjamin relevansi pendidikan dengan kebutuhan kehidupan, termasuk didalamnya kehidupan kemasyarakatan, dunia usaha dan dunia kerja.
  3. Berpusat pada potensi siswa (butir 9). Perkembangan kebutuhan dan kepentingan peserta didik terhadap lingkungannya menjadikan KTSP memiliki prinsip bahwa peserta didik memiliki posisi sentral untuk mengembangkan kompetensinya agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan YME, berahlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab (tujuan pendidikan nasional – pemusatan belajar pada siswa).
  4. Seimbang antara kepentingan nasional dan kepentingan daerah (butir 10 & 3). Kurikulum dikembangakan dengan memerhatikan kepentingan nasional dan kepentingan daerah untuk membangun kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Kepentingan nasional dan kepentingan daerah harus saling mengisi dan memberdayakan sejalan dengan motto Bhineka Tunggal Ika dalam kerangaka Negara Kesatuan Republik Indonesia.
  5. Menyeluruh dan berkesinambungan (butir 11). Inti dari kurikulum mencakup keseluruhan dimensi kompetensi yang direncanakan dan disajikan secara berkesinambungan antar semua jenjang pendidikan.
  6. Belajar sepanjang hayat (butir 12). Kurikulum mencerminkan keterkaitan antara unsur-unsur pendidikan dengan memerhatikan kondisi dan tuntutan keinginan yang selalu berkembang serta arah pengembangan manusia yang seutuhnya.
  7. Dan masih ada banyak lagi penyesuaian KTSP terhadap pengembangan kurikulum sesuai dengan prinsipnya.
Dalam pelaksanaan kurikulum yang kita ketahui , disetiap satuan pendidikan menggunakan prinsip-prinsip pelaksanaan kurikulum. Misal penjabarannya adalah  :
  1. Kurikulum dilaksanakan dalam suasana yang akrab, terbuka , saling menghargai, saling menerima antara pendidik dan peserta didik.
  2. Kurikulum dilaksanakan dengan menggunakan sumber belajar dan memanfaatkan teknologi sesuai dengan keadaan lingkungan sekitar.
  3. Kurikulum memungkinkan peserta didik mendapatkan pengayaan,  perbaikan sifat dan lain-lain menuju kerah yang lebih baik dengan mengembangkan potensi yang dimiliki dengan memperhatikan tujuan pendidikan nasional.
  4. Kurikilum saat ini harus menyesuaikan kebutuhan daerah dengan integrasi identitas nasional.
  5. Pelaksanaan kurikulum ditujukan untuk pengembangan kompetensi belajar siswa yang didasari oleh pengembangan , potensi dab kondisi. Hal inilah yang sering terlupakan pada pelaksanaan kurikulum , yakni pelayanan pendidikan yang bermutu, seimbang dan kesempatan mengekspresikan dirinya yang terkadang cenderung guru mengekangnya.
Terkadang apa yang telah disesuaikan dengan prinsip pelaksanaan kurikulum masih mendapatkan kendala. Kendala yang paling sering muncul selain dari diri guru itu sendiri adalah  tahapan ujicoba dilapangan. Sebab , kurang difokuskan untuk masalah perbaikannya dan belum merevisi tapi sudah menghasilkan kurikulum  baru , meninggalkan kurikulum lama seharusnya lebih baik merevisi. Selanjutnya pemilihan sampel ujicoba hanya beberapa sekolah dan itu tidak merata, kurangnya sosialisasi juga menyebabkan lemahnya ujicoba kurikulum. Dalam proses uji coba ini juga memerlukan biaya yang banyak biaya dan kendala yang tidak sedikit sehingga mengganggu kurikulum yang sedang berjalan di sekolah tersebut.
Related posts:
  1. Prinsip Pengembangan Kurikulum Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan             Pemerintah telah mempercepat pencanangan Millenium...
  2. PERKEMBANGAN PEMBELAJARAN MATEMATIKA DI INDONESIA Pendidikan memegang peranan penting dalam mempersiapkan sumber daya manusia yang...

Jumat, 29 Juni 2012

Konsep Dasar Evaluasi Belajar dan Pembelajaran

6.1. PENGERTIAN KEDUDUKAN DAN SYARAT-SYARAT UMUM EVALUASI
Mengapa evaluasi hasil belajar pembelajaran perlu dilakukan? Karena dengan evaluasilah, akan diketahui apakah proses belajar mengajar, dimana pembelajaran dan guru berinteraksi, telah mencapai sasaran yang dikehendaki ataukah belum. Secara rinci, alasan-alasan bagi perlunya evaluasi pembelajar adalah sebagai berikut:

Senin, 04 Juni 2012

Apa Itu Illuminati

Adam Weishaupt

Illuminati adalah sebuah persaudaraan kuno yang pernah ada dan diyakini masih tetap ada sampai sekarang walaupun tidak ada bukti – bukti nyata keberadaan persaudaraan ini sampai saat ini. Illuminati berarti Pencerahan Baru. Para penganut Illuminati disebut Illuminatus yang berarti Yang Tercerahkan. Illuminati sebelumnya bernama Perfectibilists

Kamis, 31 Mei 2012

FAKTA SHALAT

sholat lima waktu. Sholat ternyata tidak hanya menjadi amalan utama di akhirat nanti, tetapi gerakan-gerakan sholat ternyata paling proporsional bagi anatomi tubuh manusia. Bahkan dari sudut medis, sholat adalah gudang obat dari berbagai jenis penyakit.
Selama ini sholat yang dilakukan lima kali sehari oleh umat Islam, sebenarnya telah memberikan investasi kesehatan yang cukup besar bagi yang melakukan sholat tersebut. Gerakan sholat sampai dengan salam memiliki makna yang luar biasa baik untuk kesehatan fisik, mental bahkan keseimbangan spiritual dan emosional. Tetapi sayang hanya sedikit dari umat Islam yang memahaminya. Berikut ini beberapa manfaat gerakan sholat bagi kesehatan manusia.



Jumat, 11 Mei 2012

LEMBAR KERJA SISWA


Nama                     :
Kelas / Semester     : IV
Alokasi Waktu         : 30 menit

A.      STANDAR KOMPETENSI
8.  Memahami sifat bangun ruang sederhana dan hubungan antara bangun datar


B.      KOMPETENSI DASAR
8.3 Mengidentifikasi benda-benda dan bangun datar simetris

C.      INDIKATOR
1.    Memberi contoh bangun datar yang simetris dan tidak simetris
2.    Menyebutkan banyak simetri lipat yang dimiliki oleh suatu bangun datar
3.    Mengelompokkan gambar yang simetris dan yang tidak simetris

Pembuatan LKS (Lembar Kerja Siswa)


A. Pengertian Lembar Kerja Siswa (LKS)
Menurut Dhari dan Haryono (1988) yang dimaksud dengan lembar kerja siswa adalah lembaran yang berisi pedoman bagi siswa untuk melakukan kegiatan yang terprogram. Setiap LKS berisikan antara lain: uraian singkat materi, tujuan kegiatan, alat/ bahan yang diperlukan dalam kegiatan, langkah kerja pertanyaan – pertanyaan untuk didiskusikan, kesimpulan hasil diskusi, dan latihan ulangan.

Senin, 30 April 2012

Penyebab Kiamat Versi Ilmuwan


Pascaramalan akhir zaman Suku Maya, teori tentang kehancuran dunia terus terdengar di tahun ini. Bahkan, peneliti juga memperkirakan penyebab terjadinya akhir zaman. Dr David Darling, dari Universitas Manchester, dan Dr Dirk Schulze-Makuch, dari Washington State University, meneliti teori bagaimana peradaban bisa lenyap.

Rabu, 25 April 2012

Mungkinkah manusia berkembang biak secara vegetatif?


PENDAHULUAN

Perkembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK) dewasa ini harus diakui telah terjadi dengan begitu luar biasa. Sebagai dampaknya, Iptek telah menjadi sebuah alat transformasi peradaban maupun kebudayaan manusia, baik yang berdampak positif maupun negatif.

Kenyataan akhir yang sangat menggembirakan muncul dari pesatnya perkembangan bioteknologi. Sebagai bentuk aplikasi dari Biologi, Bioteknologi ternyata telah secara mengejutkan memperlihatkan potensinya yang dahsyat sebagai berkah Ilmu Pengetahuan sekaligus ancaman penyalahgunaannya.

Jumat, 20 April 2012

Media Pembelajaran

A.     Media Pembelajaran
Pengertian media mengarah pada sesuatu yang mengantar/meneruskan informasi (pesan) antara sumber (pemberi pesan) dan penerima pesan. Media adalah segala bentuk dan saluran yang dapat digunakan dalam suatu proses penyajian informasi (AECT Task Force,1977:162) ( dalam Latuheru,1988:11). Robert Heinich dkk (1985:6) mengemukakan definisi medium sebagai sesuatu yang membawa informasi antara sumber (source) dan penerima (receiver) informasi. Masih dari sudut pandang yang sama, Kemp dan Dayton (1985:3), mengemukakan bahwa peran media dalam proses komunikasi adalah sebagai alat pengirim (transfer) yang mentransmisikan pesan dari pengirim (sander) kepada penerima pesan atau informasi (receiver).

Senin, 09 April 2012

ORGANISASI PROFESI KEGURUAN


A.       Hakikat Organisasi Profesi Keguruan
1.      Hakikat Organisasi
Ada banyak pendapat yang mengemukan pengertian dari organisasi. Seperti berikut ini:
a.      Organisasi Menurut Stoner
Organisasi adalah suatu pola hubungan-hubungan yang melalui mana orang-orang di bawah pengarahan manajer mengejar tujuan bersama.
b.      Organisasi Menurut James D. Mooney
Organisasi adalah bentuk setiap perserikatan manusia untuk mencapai tujuan bersama.
c.      Organisasi Menurut Chester I. Bernard
Organisasi merupakan suatu sistem aktivitas kerja sama yang dilakukan oleh dua orang atau lebih.

Kamis, 05 April 2012

makalah kode etik guru


BAB 1
PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang
Akhir-akhir ini pendidikan menjadi masalah yang ramai dibicarakan.Berbicara mengenai pendidikan berarti berbicara tentang profesiguru. Pada saat ini profesi guru merupakan salah satu profesi yang banyak diminati oleh kebanyakan siswa dan siswi, hal tersebut karena guru merupakan profesi yang dapat menentukan masa depan bangsa ini, guru yang baik dan berkualitas dapat menjadikan bangsa ini menjadi bangsa yang berkualitas juga, begitu pun sebaliknya, seorang guru yang tidak berkualitas akan menjadikan bangsa ini menjadi bangsa yang tertinggal dan bahkan bisa menjadi bangsa yang terjajah lagi, selain itu  saat ini profesi guru dijamin kesejahteraan hidupnya. Oleh karena itu, orang-orang berlomba-lomba untuk menjadi seorang guru. Namun, menjadi seorang guru bukanlah hal yang mudah ada beberapa syarat yang harus dipenuhi antara lain adalah syarat admistrasi, teknis, psikis, dan fisik, selain itu seorang guru juga harus memiliki kompetensi pedagogik, kepribadian, sosial dan professional.

Selasa, 27 Maret 2012

ANALISIS KURIKULUM


Suplemen UAS
Pertanyaan dan jawaban dari bab 3 dan 4
1.         Apa perbedaan antara matematika tradisional dan matematika modern?

Senin, 09 Januari 2012

Tugas UAS

A. Kelebihan dan Kekurangan serta Solusi tentang Penerapan Metode atau Pendekatan Pembelajaran
1. Pemateri : Darmanto
Materi : Trigonometri
Metode yang digunakan adalah metode ekspositoris. Metode ini hampir sama dengan metode ceramah, namun yang membedakannya adalah siswa tidak hanya mendengarkan dan mencatat tetapi juga mengerjakan soal latihan dan bertanya kalau tidak mengerti.
Kelebihan dalam penerapan metode ini

Senin, 14 November 2011

PERKEMBANGAN ALAM PIKIRAN MANUSIA

Manusia sebagai HOMO SAPIENS :
Homo SAPIENS adalah mahluk yang berpikir sehingga merupakan mahluk yang cerdas dan bijaksana. Dengan daya pikirnya manusia dapat berpikir apakah yang sebaiknya dilakukan pada masa sekarang atau masa yang akan datang berdasar kan pertimbangan masa lalu yang merupakan pengalaman. Pemikiran yang sifatnya abstrak merupakan salah satu wujud budaya manusia yang kemudian diikuti wujud budaya lain, berupa tindakan atau perilaku, ataupun kemampuan mengerjakan suatu tindakan.

Senin, 07 November 2011

tugas Interaksi dan strategi belajar mengajar no 10

10. Jelaskan Kompetensi standar yang harus dimiliki oleh seorang guru matematika, baik pedagogik, profesi, sosial, dan pribadi!

Jawaban

Sorang guru yang mendidik banyak siswa dan siswi di sekolah harus memiliki kompetensi. kompentensi yang harus dimiliki diantaranya adalah :

tugas Interaksi dan strategi belajar mengajar no 6

6. Apa perbedaan antara belajar dan pembelajaran, berikan satu contoh kasus belajar dan satu contoh kasus pembelajaran!

Jawaban
perbedaan antara belajar dan pembelajaran adalah

tugas Interaksi dan strategi belajar mengajar no 3

3. Apakah definisi Aksioma, Postulat, Dalil, dam Teorema!

Jawaban

Aksioma adalah pendapat para ahli yang dijadikan sebagai pedoman pokok yang sudah kebenarannya sudah diterima secara universal tanpa harus dibuktikan lagi

Postulat adalah asumsi atau anggapan yang menjadi dasar dari dalil yang dianggap benar tanpa perlu membuktikannya

Dalil adalah kebenaran yang berasal dari aksioma, namun kebenarannya harus dibuktikan terlebih dahulu

Teorema adalah adalah sebuah pernyataan yang dapat dibuktikan secara eksplisit ataupun yang sebelumnya telah disetujui dan dapat diterima

tugas Interaksi dan strategi belajar mengajar no 7

7. Sebutkan dan jelaskan teori belajar aliran psikologi tingkah laku!

Jawaban

a. Teori Thorndike
Edward l. Thorndike (1874-1949) mengemukan beberapa hukum belajar yang dikenal dengan sebutan law of effect. Menurut hukum ini belajar akan lebih berhasil bila respon murid terhadap suatu stimulus segera diikuti dengan rasa senang atau kepuasan. Teori belajar stimulus respon yang dikemukakan oleh thorndike ini disebut juga koneksionisme,teori ini mengatakan bahwa pada hakikatnya belajar merupakan proses pembentukan hubungan antara stimulus dan respon. Terdapat beberapa dalil:

1) Hukum Kesiapan (Law Of Readiness)
Yaitu menerangkan bagaimana kesiapan seorang anak dalam melakukan suatu kegiatan. Seorang anak yang mempunyai kecenderungan untuk bertindak atau melakukan kegiatan tertentu dan kemudian dia benar melakukan kegiatan tersebut, maka tindakannya akan melahirkan kepuasan bagi dirinya. Tindakan-tindakan lain yang dia lakukan tidak menimbulkan kepuasan bagi dirinya.
2) Hukum Latihan (Law Of Exercise) dan Hukum Akibat (Law Of Effect).
Hukum latihan menyatakan bahwa jika hubungan stimulus respon sering terjadi, akibatnya hubungan akan semakian kuat. Sedangkan makin jarang hubungan stimulus respon dipergunakan maka makin lemahnya hubungan yang terjadi. Dalam hukum akibat ini dapat disimpulkan bahwa kepuasan yang terlahir dari adanya ganjaran dari guru akan memberikan kepuasan bagi anak, dan anak cenderung untuk berusaha melakukan atau meningkatkan apa yang telah dicapainya itu. Guru yang memberi senyuman wajar terhadap jawaban anak, akan semakin menguatkan konsep yang tertanam pada diri anak. Kata-kata “ Bagus”, “Hebat” , ”Kau sangat teliti” dan semacamnya akan merupakan hadiah bagi anak yang kelak akan meningkatkan dirinya dalam menguasai pelajaran.
Disamping itu, Thorndike mengutamakan pula bahwa kualitas dan kuantitas hasil belajar siswa tergantung dari kualitas dan kuantitas Stimulus-Respon (SR) dalam pelaksanaan kegiatan belajar mengajar. Makin banyak dan makin baik kualitas S-R itu (yang diberikan guru) makin banyak dan makin baik pula hasil belajar siswa.
Implikasi dari aliran pengaitan ini dalam kegiatan belajar mengajar sehari-hari adalah bahwa:
1. Dalam menjelaskan suatu konsep tertentu, guru sebaiknya mengambil contoh yang sekiranya sudah sering dijumpai dalam kehidupan sehari-hari. Alat peraga dari alam sekitar akan lebih dihayati.
2. Metode pemberian tugas, metode latihan (drill dan practicc) akan lebih cocok. Karna siswa akan lebih banyak mendapatkan stimulus sehingga respons yang diberikan pun akan lebih banyak.
3. Dalam kurikulum, materi disusun dari materi yang mudah, sedang, dan sukar sesuai dengan tingkat kelas dan tingkat sekolah. Penguasaan materi yang lebih mudah sebagai akibat untuk dapat menguasai materi yang lebih sukar.

b. Teori Skinner
Dalam bagian ini akan diuraikan teori belajar menurut skinner. Burhus Frederic Skinner menyatakan bahwa ganjaran atau penguatan mempunyai peranan yang amat penting dalam proses belajar. Penguatan dapat dianggap sebagai stimulus positif, jika penguatan tersebut seiring dengan meningkatnya perilaku anak dalam melakukan pengulangan perilakunya itu. Untuk mengubah tingkah laku anak dari negatif menjadi positif, guru perlu mengetahui psikologi yang dapat digunakan untuk memperkirakan dan mengendalikan tingkah laku anak. Skinner menambahkan bahwa jika respon siswa baik ( menunjang efektivitas pencapaian tujuan) harus segera diberikan penguatan positif agar respon tersebut lebih baik lagi, atau minimal perbuatan baik itu dipertahankan.

c. Teori Ausubel
Teori ini terkenal dengan belajar bermaknanya dan pentingnya pengulangan sebelum belajar dimulai. Ia membedakan belajar menemukan dengan belajar menerima, jadi tinggal menghafalnya. Tetapi pada belajar menemukan konsep ditemukan oleh siswa, jadi tidak menerima pelajaran begitu saja. Selain itu untuk dapat membedakan antara belajar menghafal dengan belajar bermakna.
Pada belajar menghafal, siswa menghafal materi yang sudah diterimanya, tetapi pada belajar bermakna materi yang diperoleh itu dikembangkan dengan keadaan lain sehingga belajar lebih dimengerti. Selanjutnya bahwa Ausubel mengemukan bahwa metode ekspositori adalah metode mengajar yang baik dan bermakna. Hal ini dikemukan berdasarkan hasil penelitiannya. Belajar menerima maupun menemukan sama-sama dapat berupa belajar menghafal atau bermakna.
Misalnya dalam mempelajari konsep Pitagoras tentang segitiga siku-siku, mungkin bentuk akhir c2= b2+a2 sudah disajikan, tetapi jika siswa memahami rumus itu selalu dikaitkan dengan sisi-sisi sebuah segitiga siku-siku akan lebih bermakna.

d. Teori Gagne
Menurut Gagne dalam belajar matematika ada dua objek yang dapat diperoleh langsung oleh siswa, yaitu objek langsung dan objek tidak langsung. Objek tak langsung antara lain kemampuan menyelidiki dan memecahkan masalah, belajar mandiri, bersikap positif terhadap matematika dan tahu bagaimana semestinya belajar. Sedangkan objek lansung berupa fakta, keterampilan, konsep, dan aturan.
Fakta adalah objek matematika yang tinggal menerimanya, seperti lambang bilangan, sudut, dan notasi-notasi matematika lainnya. Kemampuan berupa memberikan jawaban dengan tepat dan cepat,misalnya melakukan pembagian bilangan yang cukup besar dengan bagi kurang,menjumlahkan pecahan,melukis sumbu sebuah ruas garis.
Konsep adalah ilmu abstrak yang memungkinkan kita dapat mengelompokkan objek ke dalam contoh dan noncontoh misalkan konsep, bujur sangkar, bilangan prima, himpunan, dan fektor.
Aturan adalah objek yang paling abstrak yang berupa sifat dan teorema. Menurut Gagne, belajar dapat dikelompokkan menjadi delapan titik belajar yaitu: belajar isyarat , stimulus respon, rangkaian gerak, rangkaian verbal, membedakan, pembentukan konsep, pembentukan aturan, dan pemecahan masalah.
Dalam pemecahan masalah biasanya ada 5 langkah yang harus dilakukan. Yaitu :
1. Menyajikan masalah dalam bentuk yang lebih jelas.
2. Menyatakan masalah dalam bentuk yang lebih operasional.
3. Menyusun hipotesis hipotesis alternattif dan prosedur kerja yang diperkirakan baik.
4. Mengetes hipotesis dan melakukan kerja untuk memperoleh hasilnya.
5. Mengecek kembali hasil yang sudah diperoleh.

e. Teori Pavlov
Pavlof terkenal dengan teori belajar klasik. Ia melakukan percobaan terhadap seekor anjing, anjing itu dikurung dalam suatu kandang dalam waktu tertentu dan diberi makan. Selanjutnya, setiap akan diberi makan Pavlov membunyikan bel, ia memperhatikan bahwa setiap dibunyikan berl pada waktu tertentu anjing itu mangeluarkan air liurnya, walaupun tidak diberi makanan.
Pavlov mengemukakan konsep pembiasaan atau conditioning. Dalalm hubugannya dalam kegiatan belajar mengajar agar siswa belajar dengan baik maka harus dibiasakan. Misalnya, agar siswa mengerjakan soal peekerjaan rumah dengan baik, biasakanlah dengan memeriksanya, menjelaskannya, atau memberi nilai terhadap hasil pekerjaannya.

f. Teori Baruda
Baruda mengemukakan bahwa siswa belajar itu melalui meniru. Pengertian meniru di sini bukan berarti menyontek, tetapi meniru hal-hal yang dilakukan oleh orang lain, terutama guru. Jika tulisan guru baik, guru berbicara sopan santun, tingkah laku yang terpuji, menerangkan dengan jelas dan sistematis, maka siswa akan menirunya. Jika contoh yang dilihat kurang baik maka ia pun akan menirunya.

g. Aliran Latihan Mental
Aliran ini berkembang sampai dengan abad 20, yang mengemukakan bahwa struktur otak manusia terdiri atas gumpalan-gumapalan otot, agar ini kuat, maka harus dilatih dengan beban, makin banyak latihan dan beban yang makin berat,maka otot atau otak itu makin kuat pula, oleh karna itu jika anak atau siswa ingin pandai, maka ia harus dilatih otaknya dengan cara banyak berlatih memahamidan mengerjakan soal-soal yang benar, makin sukar materi itu makin pandai pula anak tersebut.
Struktur kurikulum pada masa itu berisikan materi-materi pelajaran yang sulit, sehingga orang sedikit yang bersekolah karna tidak kuat untuk mengikutinya. Disamping faktor lain seperti keturunan, biaya, dan kesadaran akan pentingya sekolah.

tugas Interaksi dan strategi belajar mengajar no 5

5. Jelaskan 4 tahap perkembangan kognitif dari individu menurut Piaget!

Jawaban

4 tahap perkembangan kognitif dari individu menurut Piaget yaitu

a. Periode sensorimotor
Menurut Piaget, bayi lahir dengan sejumlah refleks bawaan selain juga dorongan untuk mengeksplorasi dunianya. Skema awalnya dibentuk melalui diferensiasi refleks bawaan tersebut. Periode sensorimotor adalah periode pertama dari empat periode. Piaget berpendapat bahwa tahapan ini menandai perkembangan kemampuan dan pemahaman spatial / persepsi penting dalam enam sub-tahapan :

1) Sub-tahapan skema refleks, muncul saat lahir sampai usia enam minggu dan berhubungan terutama dengan refleks.
2) Sub-tahapan fase reaksi sirkular primer, dari usia enam minggu sampai empat bulan dan berhubungan terutama dengan munculnya kebiasaan- kebiasaan.
3) Sub-tahapan fase reaksi sirkular sekunder, muncul antara usia empat sampai sembilan bulan dan berhubungan terutama dengan koordinasi antara penglihatan dan pemaknaan.
4) Sub-tahapan koordinasi reaksi sirkular sekunder, muncul dari usia sembilan sampai duabelas bulan, saat berkembangnya kemampuan untuk melihat objek sebagai sesuatu yang permanen walau kelihatannya berbeda kalau dilihat dari sudut berbeda (permanensi objek).
5) Sub-tahapan fase reaksi sirkular tersier, muncul dalam usia dua belas sampai delapan belas bulan dan berhubungan terutama dengan penemuan cara-cara baru untuk mencapai tujuan. Sub-tahapan awal representasi simbolik, berhubungan terutama dengan tahapan awal kreativitas.

b. Tahapan praoperasional
Tahapan ini merupakan tahapan kedua dari empat tahapan. Dengan mengamati urutan permainan, Piaget bisa menunjukkan bahwa setelah akhir usia dua tahun jenis yang secara kualitatif baru dari fungsi psikologis muncul. Pemikiran (Pra) Operasi dalam teori Piaget adalah prosedur melakukan tindakan secara mental terhadap objek-objek. Ciri dari tahapan ini adalah operasi mental yang jarang dan secara logika tidak memadai. Dalam tahapan ini, anak belajar menggunakan dan merepresentasikan objek dengan gambaran dan kata-kata. Pemikirannya masih bersifat egosentris: anak kesulitan untuk melihat dari sudut pandang orang lain. Anak dapat mengklasifikasikan objek menggunakan satu ciri, seperti mengumpulkan semua benda merah walau bentuknya berbeda-beda atau mengumpulkan semua benda bulat walau warnanya berbeda-beda. Menurut Piaget, tahapan pra-operasional mengikuti tahapan sensorimotor dan muncul antara usia dua sampai enam tahun. Dalam tahapan ini, anak mengembangkan keterampilan berbahasanya. Mereka mulai merepresentasikan benda-benda dengan kata-kata dan gambar. Bagaimanapun, mereka masih menggunakan penalaran intuitif bukan logis. Di permulaan tahapan ini, mereka cenderung egosentris, yaitu, mereka tidak dapat memahami tempatnya di dunia dan bagaimana hal tersebut berhubungan satu sama lain. Mereka kesulitan memahami bagaimana perasaan dari orang di sekitarnya. Tetapi seiring pendewasaan, kemampuan untuk memahami perspektif orang lain semakin baik. Anak memiliki pikiran yang sangat imajinatif di saat ini dan menganggap setiap benda yang tidak hidup pun memiliki perasaan.

c. Tahapan operasional konkrit
Tahapan ini adalah tahapan ketiga dari empat tahapan. Muncul antara usia enam sampai duabelas tahun dan mempunyai ciri berupa penggunaan logika yang memadai. Proses-proses penting selama tahapan operasional konkrit adalah : Pengurutan—kemampuan untuk mengurutan objek menurut ukuran, bentuk, atau ciri lainnya. Contohnya, bila diberi benda berbeda ukuran, mereka dapat mengurutkannya dari benda yang paling besar ke yang paling kecil. Klasifikasi—kemampuan untuk memberi nama dan mengidentifikasi serangkaian benda menurut tampilannya, ukurannya, atau karakteristik lain, termasuk gagasan bahwa serangkaian benda-benda dapat menyertakan benda lainnya ke dalam rangkaian tersebut. Anak tidak lagi memiliki keterbatasan logika berupa animisme (anggapan bahwa semua benda hidup dan berperasaan)
1) Decentering—anak mulai mempertimbangkan beberapa aspek dari suatu permasalahan untuk bisa memecahkannya. Sebagai contoh anak tidak akan lagi menganggap cangkir lebar tapi pendek lebih sedikit isinya dibanding cangkir kecil yang tinggi.
2) Reversibility—anak mulai memahami bahwa jumlah atau benda-benda dapat diubah, kemudian kembali ke keadaan awal. Untuk itu, anak dapat dengan cepat menentukan bahwa 4+4 sama dengan 8, 8-4 akan sama dengan 4, jumlah sebelumnya.
3) Konservasi—memahami bahwa kuantitas, panjang, atau jumlah benda-benda adalah tidak berhubungan dengan pengaturan atau tampilan dari objek atau benda-benda tersebut. Sebagai contoh, bila anak diberi cangkir yang seukuran dan isinya sama banyak, mereka akan tahu bila air dituangkan ke gelas lain yang ukurannya berbeda, air di gelas itu akan tetap sama banyak dengan isi cangkir lain.
4) Penghilangan sifat Egosentrisme—kemampuan untuk melihat sesuatu dari sudut pandang orang lain (bahkan saat orang tersebut berpikir dengan cara yang salah). Sebagai contoh, tunjukkan komik yang memperlihatkan Siti menyimpan boneka di dalam kotak, lalu meninggalkan ruangan, kemudian Ujang memindahkan boneka itu ke dalam laci, setelah itu baru Siti kembali ke ruangan. Anak dalam tahap operasi konkrit akan mengatakan bahwa Siti akan tetap menganggap boneka itu ada di dalam kotak walau anak itu tahu bahwa boneka itu sudah dipindahkan ke dalam laci oleh Ujang.

d. Tahapan operasional formal
Tahap operasional formal adalah periode terakhir perkembangan kognitif dalam teori Piaget. Tahap ini mulai dialami anak dalam usia sebelas tahun (saat pubertas) dan terus berlanjut sampai dewasa. Karakteristik tahap ini adalah diperolehnya kemampuan untuk berpikir secara abstrak, menalar secara logis, dan menarik kesimpulan dari informasi yang tersedia. Dalam tahapan ini, seseorang dapat memahami hal-hal seperti cinta, bukti logis, dan nilai. Ia tidak melihat segala sesuatu hanya dalam bentuk hitam dan putih, namun ada “gradasi abu-abu” di antaranya. Dilihat dari faktor biologis, tahapan ini muncul saat pubertas (saat terjadi berbagai perubahan besar lainnya), menandai masuknya ke dunia dewasa secara fisiologis, kognitif, penalaran moral, perkembangan psikoseksual, dan perkembangan sosial. Beberapa orang tidak sepenuhnya mencapai perkembangan sampai tahap ini, sehingga ia tidak mempunyai keterampilan berpikir sebagai seorang dewasa dan tetap menggunakan penalaran dari tahap operasional konkrit.